Semburat cahaya senja memerah bak lampu neon di balik awan yang berbaris. Mentaripun kulihat mulai merayap pelan bergegas kembali ke peraduannya. Angin senja yang dingin berdesir membelai lembut tubuhku. Dinginpun merasuk.
Akupun menghela nafas perlahan. Kupejamkan mataku perlahan pula. Aku terdampar disini, aku disini karena mengejarmu. Sebisaku aku menelusuri jejak dan penanda yang kurasa itu darimu. Akupun mengendus dan menciumi sang angin, menyesap dan memilah setiap aroma yang dibawanya. Kuharap kali ini dia membawa pula aroma dan pertanda darimu.
Nihil.
Jangankan pertanda darimu aromamupun tak sedikitpun tercium olehku. Aroma yang senantiasa kurindui. Aroma yang senantiasa menenangkan dan menyejukkan sanubariku. Jantungku berdetak lebih kencang. Tak biasanya seperti ini. Apa gerangan yang terjadi? Aku berteriak memanggilmu. Berharap kau kan menyahut panggilanku.
Tak dapat kupungkiri bahwa hadirmu benar-benar nihil, apa kau hanya sebatas aroma yang lenyap dibawa angin. Aku tetap berjalan sambil melihat barisan pertanyaan itu melayang-layang di didepan mataku namun aku masih mengikuti setiap langkah aroma itu. Berharap kau yang menciptakannya.
Sunyipun mulai merayapi. Kulihat langitpun mulai tak memerah lagi. Kelabu mulai menyelinap mengusir jingga sang senja, penanda bahwa sang malam sudah tak sabar ingin bertahta. Kelampun merangsak perlahan menyelimuti angkasa. Gelap dan kelam.
Dinginpun makin menusuk. Kutengadahkan kepala ke angkasa memandang penuh harap pada sang malam agar sudi kiranya tak terburu-buru mengusir senja.
"Wahai malam sudikah kau berbaik hati untuk memberi jeda waktu lebih lama untuk sang senja?
Aku masih membutuhkannya. Kekasihku biasanya menitipkan pesan padanya.
Namun kali ini sepertinya dia butuh waktu lebih lama untuk menghantarkannya.
Sudilah kiranya kau bersabar sejenak biarkan sang senja menemaniku menunggui pesan darinya?
Barangkali tak berapa lama lagi pesan itu kan tiba."
Namun sepertinya sang malam tak peduli pada bujukanku. Bahkan sedikitpun dia tak menolehkan pandangannya padaku. Kulihat dia terus saja merangsak mengusir senjaku.
Akupun terpekur semakin dalam, menghela nafas yang kurasa sesak. Seribu tanya bergelayut di kepalaku. Pertanda darimu hanya muncul saat senja namun kali ini tak ada pertanda sama sekali darimu. Mungkinkah kali ini kau tak sempat menitipkannya pada sang senja? Atau mungkin kali ini sang senja terlalu terburu-buru sehingga kau tak berhasil berpesan padanya? Atau barangkali sang senja sudah tak sudi lagi menjadi pembawa pesanmu? Atau justru malah sebenarnya kaulah yang tak ingin lagi memberikan pertanda bagiku? Entahlah.
Aku melangkah lagi, masih saja berharap terus berharap dan tak henti berharap. Inginku pancing matahari agar nampak lagi membawa senja dan memberi kesempatan kau untuk hadir disini, untuk sekedar menghabiskan senja bersama.
Selalu dan selamanya. Tenanglah, aku tak pernah perdulikan tentang pertanyaan, siapa yang tak sempat? Senjakah? Atau dirimu? Yang aku tau, aku percaya kamu. Aku percaya ada yang jauh lebih indah untuk besok, sekenario yang telah dibuat olehNya, lebih indah dari apa yang kita rencanakan. ☺
Selamat petang untukmu, semoga kau tetap dalam lindunganNya. Salam dariku yang jauh darimu, yang bergadengan dengan jarak, yang tak dapat bertukar pandang karna terhalang oleh ratusan kilo meter yang bersemedi ditengah-tengah kita.
❤with love, ZeteLeN❤


Tidak ada komentar:
Posting Komentar