Minggu, 13 Maret 2016

Pertanyaan Absurd.

Selamat petang, Sayang. Ahadku rasa Senin. Setelah hari tenang biasanya yaaa memang seperti ini, ditumpuki soal ujian yang siap menantang.

Bagaimana harimu? Masih merindu? Maafkan bakatku yang terkadang kurang ajar. Ya! Mudah dirindukan. Hahaha terlalu percaya diri ya. Biarkan. Kau mulai terbiasa dengan kenarisisanku kan? Seharusnya tidak menjadi masalah.

Kau tahu? Beberapa waktu lalu aku bertandang ke dalam suatu kelompok diskusi. Ada sesi tanya jawab di sana. Bukan pertanyaan-pertanyaan sulit, yang dimana aku harus menjawabnya dengan sedikit mencontek buku atau reng-rengan yang ku siapkan terlebih dahulu. Hanya saja pertanyaan-pertanyaan yang bisa menggali sisi diriku. Banyak sekali pertanyaan bemunculan, sebagian sisi ku sudah nampak ke permukaan. Aku gagal lagi menjadi perempuan misterius. Haaah, tapi tak apa. Ini kegiatan menyenangkan. Karena ada beberapa orang yang sama denganku. Setidaknya aku tidak merasa aneh sendiri. Hehehe..

Sampai pada pertanyaan ‘Apa hal paling absurd yang pernah kamu alami?’ Kamu tahu apa yang aku jawab? 'Mengenalmu'. Ya, memercayakan sebagian hati untuk kau genggam. Kau jelas tahu, aku perempuan yang cukup sulit membukanya kan? Pun kau juga tau sendiri perjalanan kisahku dulu, membuatku sedikit takut jika terulang lagi. Tapi entah, terhadap orang sepertimu aku bisa percaya-percaya saja. Memersilakanmu masuk, untukku jamu dengan senyum dan dekap yang hangat. 

Ya, bertemu kamu adalah hal paling absurd yang pernah aku alami. Bagaimana bisa aku yang berprinsip tidak akan mudah menaruh hati justru padamu – lelaki yang asal muasalnya saja tidak aku ketahui, ia bersukarela. 

Hatiku membesarkan dirinya sendiri dengan membisikkan ‘Kau tidak jatuh sendiri, ia berusaha untuk tidak membuatmu kecewa seperti yang sudah-sudah.’ 

Setelahnya hanya ada dialog-dialogku dengan hatiku sendiri, mengenai 'bagaimana bisa?' dimana jawabanya yang tumpah ruah tidak terhingga. Dan berkali-kali untuk pertanyaan yang berbeda hatiku hanya menjawab ‘Jalani saja dulu. Jika tidak dijalani, bagaimana kau tahu kisahnya akan seperti apa?’  Akhirnya aku hanya bisa mengamini hatiku yang acapkali Membisikkan harapan-harapan indah.

Esok jika bertemu akan aku tanyakan hal yang sama padamu. Barangkali jawabanmu sama dengan jawabanku, maka aku akan mengejekimu ‘dasar, palagiat!’ Lalu kau hanya bisa menahan gemas. 

Sekali lagi, maaf untuk bakatku yang lainnya ya.. menggemaskan.



Si Kepala Besar,

Kamu-mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...