Kita adalah kumpulan kenang di masa lalu yang bergumul di salah satu simpang jalan sebelum akhirnya saling menemukan. Bersamamu aku rasai candu yang membuat seluruh luka bisa ditertawakan dan tak ada yang lebih sendu dari langkah kakimu ketika pulang, Tuan. Dan sendu bagiku ketika jarak bukan saja kilometer yang membuat mual dan sakit kepala berkepanjangan. Namun saat kita bicara tapi tak melihat pada kedalaman mata. Kamu perlahan jadi sesuatu yang kutakutkan jika hilang.
Ketika anak manusia bahagia tidak akan pernah terbesit rasa takut akan kehilangan. Tuan, yang kita butuh lakukan adalah berbahagia sepanjang hari tanpa memikirkan kehilangan-kehilangan. Bukankah kita telah cukup belajar dari masa lalu. Tentang yang datang dan hilang.
Aku sudah mengalami beberapa kehilangan. Sayangnya aku tetap ketakutan. Bukankah hati manusia bisa berubah kapan saja? Dan jika kamu pergi seperti yang lainnya aku harus apa? Jika bagimu berbahagia sepanjang hari mampu menghilangkan takut dan resah, ajari aku bagaimana berbahagia dengan cara tak latah, Sayang.
Mari kita bertukar mimpi setiap malam, berbagi tawa saat pagi datang, siangnya kita saling menulis letupan perasaan, melingkari kalender untuk setiap tanggal yang menghantarkan kita pada pertemuan, menikmati rindu yang sama banyaknya dengan udara, lalu…. saling memafkan jika ada yang berbuat salah, hingga akhirnya tidur dengan harapan akan saling menemukan surat cinta di bawah daun pintu esok hari. Membayangkannya saja aku bahagia Tuan. Bagaimana?
Nona dengarlah, bahkan membayangkannya saja aku bisa tertawa bahagia. Bagaimana kalau kita sepakati bahwa rutinitas ini tak akan pernah berhenti. Hingga masing-masing dari kita telah mati, menyatu pada tanah. Tak peduli sebanyak apa kita akan bertengkar, tak peduli seberapa jauh jarak menjengkal, tak hirau selucu apa kita saat melakukannya.
Dan…. Kamu akan tetap menjadi kamu. Aku akan tetap menjadi aku. Yang disimpul menjadi kita
®|_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar