Selasa, 22 Maret 2016

Semoga Hanya Bentuknya. ❤

Awal tulisan ini ingin aku arahkan pikiran kalian, jangan pernah berpikir apa yang di tulis adalah apa yang di alami sang penulis.

Ini realita, ini kenyataan dan aku berharap tidak mengalami ini. Aku menulis dan berpikir mungkin ini yang dirasakan setiap dia yang sakit hati hampir setiap harinya. Ini juga hanya pendapatku saat ada yang berbagi cerita kisahnya denganku, jika ditanya "bagaimana perasaannya" ya mungkin ini jawabannya. Tapi percayalah aku tidak berharap jika kisah yang ku tulis ini suatu saat dapat di rasakan siapapun, aku pribadi, kamu atau kalian yang membaca nya, ehehe. :D selamat menikmati :).

Oh.. Dilarang Baper yaa.. :D

Begini,
hatiku sudah tak lagi cantik secantik waktu aku masih kecil, saat aku belum mengenal anugrah besar ini. Hati ini sudah beberapa kali jatuh di tangan orang yang salah. Mereka tak menjaganya dengan baik. Ada beberapa goresan di sana sini.
Warnanya juga tak lagi merah segar. Ada banyak sisi yang tampak biru lebam.
Ada yang pernah memegangnya dengan ceroboh. Diam saja walaupun hatiku terantuk dengan keras, hingga memarnya mustahil hilang tanpa bekas. Ia juga beberapa kali patah. Ada yang dengan sengaja membantingnya hingga terbelah jadi dua. Yang ini membuatku hampir kehabisan darah. Tunggu dulu, itu bukan yang paling parah. Karena ada yang dengan wajah dingin dan tega, menginjaknya hingga hancur tak berbentuk. Aku tak lagi merasakan air asin yang meleleh hingga sudut bibir saat memunguti pecahannya.

Aku memang berhasil menyatukan potongan-potongannya kembali. Jangan tanya berapa lamanya. Aku dengan sengaja tak menghitung hari, aku tak ingin gila. Bentuknya tak lagi sempurna, tapi sudah tak kutemukan lagi sisa pecahannya. Aku tak terlalu memperdulikan bentuknya, yang aku jaga hanya apa yang ada di dalamnya.

Bentuknya memang tak sesempurna saat pertama kali ada. Mungkin ada yang hilang, tak terlihat karena terlalu kecil, atau bisa saja masih tersangkut di sandalnya, atau sepatunya mungkin. Aku tak tahu. Aku tak memaksamu untuk paham. Dengan kondisi seberantakan ini, aku tak sepeka dulu dalam menangkap rasa. Aku tak bisa secepat dulu mengartikan emosi. Ini cinta, atau hanya kagum semata. Ini rindu, atau sekedar ingin bertemu. Aku kesulitan membedakan.

Kondisinya tak memungkinkan untuk jatuh hati secepat angin berlalu. Sebelum memutuskan untuk tinggal, pikirkan baik-baik. Aku tak mau merasakan hal yang sama, meraskan sakit yang sama. Jadi jika kau memang ingin tinggal, tinggal lah saja, jangan tentukan mau seberapa lama kau disini. Tinggal lah disini sekarang, esok biarkan jadi milik waktu. ;).

............



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...