Makan? Kau
bilang makan? Memang sambungnya kehidupan manusia sebagian besar dapat
dipengaruhi oleh itu. Namun, tak seluruhnya. Karena saat kau makan, kau tak
dapat menghindar dari berak beberapa saat kemudian. Apa yang kau makan dan seperti apa kotorran yang keluar dari tubuhmu memiliki korelasi yang
sangat erat. Semakin banyak jenis makanan yang kau santab dalam sekali tenggak,
maka semakin berat pula kandungan kotoran yang akan keluar dari tubuhmu.
Jangan kau
salah pahami dulu. Aku hanya ingin menjagamu dalam ketiadaanku dalam anganmu. Kalau
kau masih terus saja menganggap aku tak ada, aku rela menjadi seperti angin
yang berhembus. Memberikan kesegaran kepadamu, meski kau tak pernah melihat dan
menganggapku. Tak masalah!
Banyak,
terutama dari kalangan remaja, sepertimu. Ketika mereka tak memiliki sesuatu,
mereka berusaha mencarinya. Ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka
cari, mereka menyepelekannya seperti tak menganggapnya. Namun ketika sesuatu
itu lenyap, ia berusaha mencarinya kembali. Bukankah itu konyol? Aku harap kau
tak seperti demikian. Toh kau juga sama sekali tak pernah mengharapkanku ketika
aku tiada, ketika aku ada kau juga tak pernah menganggapku. Dan ketika aku
menghilang... Ah, sudahlah.
Mereka berebut
mencari kekasih, jika mereka sudah mendapat kekasihnya masing-masing – entah
itu karena benar-benar atas dasar cinta, atau hanya sekedar metode agar tak
dinisbati jomblo--- mereka bersenang-senang dengan itu. Ketika berselang lama,
ada sebagian dari mereka yang merasa bosan, atau juga merasa sadar dari mimpi
kelamnya, mereka melepaskannya, lalu menangis, merana lama kelamaan mereka
terbiasa kehilangannya.
Sama seperti
saat mereka makan. Mereka mencari makanan yang paling mereka sukai. Lalu mereka
memakannya dengan penuh meresapi kenikmatannya. Namun, jika mereka terlalu sering
mengonsumsinya, lama kelamaan mereka merasa bosan, lalu tak mencari makanan
yang disukainya dulu. Puncak dari memasukkan makanan kedalam perut adalah
keluarnya pula sebagai tinja. Dan hanya orang bodoh yang menyesali larutnya
tinja dalam sebuah kloset. Jangan-jangan kau termasuk orang yang seperti itu?
Janganlah!
Aku saja makan
sesuap rejeki dari Tuhan cukup untuk membuatku tak makan selama sisa hidupku.
Lalu, kau bagaimana? Apa juga demikian? Atau kau malah lebih ekstrem dengan
tanpa sekalipun meminta kepada Tuhan untuk memberimu rejeki? Asalkan kau tahu,
kehidupan ini sesungguhnya tak jauh beda dengan metodemu makan sesuatu. Kau
bekerja, mencari makan. Kau mendapatkan makanan, lalu kau memasaknya, lalu
memakannya dan pada akhirnya makanan itu kau buang dalam bentuk tinja.
Jangan berpikir
yang liberal dulu. Bukankah memang seperti demikian adanya? Kita hidup di dunia
ini, mencari sesuatu yang pada akhirnya akan kita buang. Namun jika kau mau
lebih dalam lagi memikirkan hal itu, sebenarnya yang demikian itu bukanlah
wujud konsep “mencari untuk membuang”. Itu semua merupakan konsep perputaran.
Perputaran pada lingkaran tak ada hentinya. Kecuali jika ada setitik saja
bagian dari lingkaran itu terputus, lahirlah kematian.
Aku bukan hanya manusia yang mengejar kematian dengan dibuntuti bayangan di belakangku. Siapa pun tahu, kalau manusia itu tetap harus berusaha menyambung hidupnya sampai akhirnya mentok pada kematian.

Suka bikin artikel ya mbak.
BalasHapus