Mungkin untuk kurasakan peluk tubuhnya saat ini hanya kata 'tidak mungkin' yang dapat menjawab. Tak terasa 5 kali aku bertemu Romadhon Tanpa merasakan sedapnya masakkanmu, caramu memanggilku sungguh sampai saat ini masih menyapaku, masih saja aku rasakan cubitan kecilmu saat aku menggodamu dengan mencium pipimu tanpa kau sadari. Kau tertawa geli karna kebodohanku. Apa Kau ingat? Kau pernah berjanji padaku, kau akan hidup 1000 tahun lagi, kau ingin melihat kebahagiaanku bersama yang terkasih, tapi kenapa kau berbohong padaku. Apa salahku hingga kau sampai hati meninggalkan aku dan masa depanku. Bukankah kau pernah berjanji bahwa hidupmu ditakdirkan untuk menggendong tubuhku, bukankah itu yang kau ucapkan? Kenapa malah seperti ini jadinya.
Aku pernah membrontak dengan keadaanku saat ini sebelumnya, rasanya aku ingin menyerah pada keadaan yang bahkan belum ku jalani, mungkin ini yang dinamakan 'menyerah sebelum berperang'. Hanya tangis setiap malam yang tak henti terdengar oleh dinding kamarku, aku tak percaya adanya kebahagian setelah semua ini terjadi, kehilangan senyum, ya.. saat itu yang kurasakan. Bahkan aku sempat berpikir bahwa Tuhan ingin aku menderita "mana keadilan yang kau janjikan Tuhan...." Bak cambukan keras menghujam tubuhku, menyisatkan goresan luka yang cukup dalam, menyisakan perih diatasnya kala aku sadar kau tak bernafas lagi, terlalu perih luka diguyur sang hujan mengingat Kita sudah berbeda alam.
Sebelumnya memang keadaan yang memaksaku untuk kuat melanjutkan hidup ini, kau tak pernah ceritakan padaku tentang betapa kerasnya kehidupan. Dan ku lanjutkan kehidupan ini semua dengan kata 'terpaksa' di belakangnya. Sampai ketika aku menatap cermin dan seperti ada suara dihati ini, suara yang tak mampu didengar oleh siapapun kecuali DIA. "sampai kapan kau akan seperti ini.. Kau masih punya kisah yang panjang, apa kau ingin putuskan semuanya dengan cara konyolmu ini. Bangkitlah, yakinlah Tuhan tak pernah salah menentapkan takdir, DIA memberimu keadaan seperti ini karna DIA tau kau mampu, bangkitlah, jadikan DIA penompangmu, jadiakan DIA satu-satunya penolongmu, mungkin inilah cara DIA untuk menyadarkanmu bahwa Manusia hanyalah sebatas mahlukNYA dan tak pantas kau jadikan sandaran, DIA ingin kau sadar, DIAlah sebaik-baik sandaran, bangkitlah, raih jilbabmu jadilah wanita yang lebih kuat dari yang sebelumnya, mintalah padaNya agar dibukakan pintu ikhlas dihatimu menerima takdirNya. Ayolah.. Engkau harus Ridho dengan keputusanNya agar DIA Ridho pula denganmu". Aku mulai kembali lagi, terus beradaptasi dengan keadaan.
Kadang hatiku terasa sesak saat aku melihat wanita seumuranku masih saja digandeng ibu mereka, kau tau? Sesak itu karna aku kembali tersadar, kedewasaan bukanlah terlihat dari umur, namun dari bagaimana dia jalani kerasnya dunia. Disaat itu juga aku merasakan kedewasaan menyelimutiku, aku kembali tersadar semua ini sudah di rencanakan indah oleh-Nya lebih dari rencanaku denganmu sebelumnya, semoga kau bahagia di Sana. Aku merindukanmu tapi itu tak dapat ku jadikan alasan untukku terpuruk menghabiskan waktu menangisimu, aku hanya bisa lantunkan Do'a untukmu. Bahagialah mak', Alloh Tuhan Kita mencintaimu lebih dari yang kau perlu. I miss you mak',.. Miss you so much... :'( and I Love you. Terimakasih untuk kelembutan yang selama ini kau hadirkan disetiap candamu. Dulu aku sering merasa jengkel dengan omelanmu, tapi aku sekarang malah merindukan hal itu, hemm.. Kadang kehidupan bisa selucu itu, apa yang menjadi kebiasaan meskipun tak kita suka, namun kita merindu lagi ketika hal itu benar-benar musnah. Sampai jumpa kembali Malaikat tak bersayapku, ketemu di SyurgaNya ya?, nanti aku bisa sesuka hati menggodamu disana. Anakmu sudah besar mak'.. Lihatlah..
Zahrotul Laili N
Jumat, 10 Juli 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak Mengetauhi Apa-apa
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...
-
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku ...
-
Pintaku, jangan dulu berjanji. Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti. Karena mungkin ...
-
Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya...


subhanallah....
BalasHapusmembaca tulisanmu aku jadi malu sendiri..