Senin, 13 Juli 2015

konco ora ono seng lawas.

           Pagi ini masih dengan matahari yang sama, tapi dengan udara yang baru. Tadi aku merapikan buku-buku tahun lalu, ku simpan dan ku jadikan satu di tempat dimana buku yang lebih lama menghuni almariku. Karna akan ada yang baru menepati tempat itu, tak sengaja Aku menemukan buku seperti dompet. Ku ingat itu buku sudah 5 tahun yang lalu, rasanya hati ini ingin membuka buku itu tapi melihat pekerjaan yang masih seperti gunung himalaya membuatku berfikir membukanya sesudah semua ini rampung.
         Ku sisihkan buku itu dari tumpukan buku yang menjulang tinggi bak apartemen lantai 15. Ku letakkan diatas rak buku yang baru. Aku kembali membereskan yang lain, tapi seolah buku itu melambai-lambai seakan menyapaku "bukalah aku, siapa tau kau temukan kebahagianmu yang hilang" kau tau? Baru kali ini buku dapat memasuki pikiranku menghentikan tanganku yang sedang bekerja, mulai mendekati dan mulai membukanya.
         Tepat pada belakang sampul ada foto teman-temanku seperjuangan. Ya, waktu aku masih Tsanawiyah. Muka-muka yang tak asing kembali ku ingat satu persatu, ku tunjuk dan ku sebut nama mereka. Lagi-lagi seperti anak kecil yang belajar mengingat. Aku tersenyum melihat fotoku jaman dulu yang asing menurutku, karena terlalu jauh dengan yang sekarang, kau tau? Dulu aku tak setua ini.
          Ku buka lembar selanjutnya dan seterusnya, aku mulai tertawa geli karna, Ya Alloh Gusti... Polosnya aku waktu itu, aku ingat tulisan itu adalah kali pertama aku jatuh cinta. Dan kata-kata bak penyair kutemukan pula pada lembar yang sama, tawa kecikku mengikutiku setiap kali aku berhenti membaca untuk mengingat kejadian masa itu, di atas tulisan itu tertulis tanggal 2 mei 2011. Selesai dan ku buka halaman selanjutnya tak sengaja ku temukan kertas yang terselip kecil lalu ku... Ah terlalu memalukan jika ku ceritakan isinya.
         Tak jarang ku temui temui tulisan yang tak bisa terbaca karna tulisan yang acak kadul + amburadul menghiasi setiap halaman. Semua memory seoalah membawaku ke sana lagi. Kebahagian bersama orang-orang terkasih dan teman-teman yang hanya bermuka satu, masalah-masalah yang tertulis pun masih mudah diatasi dan tak seruwet yang sekarang, kau tau? Dulu aku lebih gemuk dari sekarang.
         Setiap halaman selalu ada tanggal, maka mudah aku menghitung berapa tahun sudah tinta itu menemplok di atas kertas yang dulu putih dan sekarang mulai terlihat kusam. Bahkan jamnya ada yang ku tulis karna pernah larut malam aku menulis mimpiku yang membuatku susah tidur. Ku temui pula setangkai mawar, yang mulai rapuh dimakan usia. Ku buka satu persatu halaman sampai pada halaman terakhir ku temui 10 wanita berpose sok cantik yang menghuni sampul buku paling akhir di bawahnya tertulis "RI'AH, IMA, PUPUT, ELI, ITA, LAILA, RIA, DWI, ANA, ILYA. WE ARE SAKURA" di foto itu masih terlihat jelas wajah-wajah sahabat karibku sampai sekarang  walau sudah jauh berpisah karna tuntutan. Tapi itu seakan tak jadi alasan persahabatan berakhir, karna ada kalanya kita harus berpisah untuk melanjutkan hidup, menjalankan kisah baru, dan jika semua sudah berakhir kita akan sama-sama lagi. Jika bertemu lagi pasti akan ku ceritakan kisahku padamu, dan akan ku dengarkan kisah tentang dirimu, apa kau ingat sobat? Ketika kita main sama-sama ada salah satu dati kita yang berucap "woy... Bareng-bareng terus yo? Sok mben anak bojoku bakal tak ceritane, piye apik e konconanku marang koe kabeh, ojo lali anakmu yo ceritani kabeh yo? Ee sopo weruh anakku dadi koncone anakmu, ee dadi bojo yo malah apik..!" lalu terdengar sahutan "gampang yo, tapi seng kate nikah sek sopo iki?" semua saling menunjuk dengan glagat tawa yang tragis karna tawa kita saat bersama lebih keras dari pada pasar senin. Oh kawan, Sumpah aku rindu kalian. Aku berharap kita bisa sama-sama lagi. Tapi aku tau, kita punya kawan baru, itu pun tak masalah, karna kita juga punya kisah yang baru. Tak apa, Sahabat itu bukan bagaimana 'kamu mengerti aku' tapi 'aku selalu mengerti kamu sobat.' jadi semua akan terasa lebih tulus.
          Masa-masa seperti itu tak jarang ku rindukan, benar ucap buku ini, membukanya kembali membuatku menemukan kebahagianku dulu. Tak terasa air mata terjun bebas dari sungai kecil ini. Aku ambil ponselku, ku minta pertemuan dengan mereka, karna tiba-tiba rindu ini bergejolak meminta pertemuan. "Hai sobatku yang dari belum kenal huruf sampai mau kenal calon suami, bagaimana kabarmu? Bisakah aku menyita waktumu sedikit, sedikit lebih banyak, hehe? Ini rindu mencengkram hatiku dan hati ini seolah ingin memuntahkan rindu ini. Apa kau juga sama?" aku berharap mereka menjawab ku tunggu dan sampai sekarang masih menunggu.
         Angap saja masa lalu yang tak pantas diingat hanya sebagai sejarah, dan sejarah hanya di buat pelajaran bukan untuk di ulang kembali. Sobat... Ini bukan tentang aku, tapi ini tentang KITA semua. Salam sayang, cinta, rindu dan kasih untuk kalian. Semoga Alloh selalu dihati kalian sobat.

Zahrotul Laili N








1 komentar:

  1. Tanda baca dan format penulisan masih banyak yg perlu disesuaikan

    BalasHapus

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...