Jumat, 15 Januari 2016

Itu Karena Kita Istimewa..

Menjadi pendengar untuk cerita yang sangat panjang dan dengan subjek yang beraneka ragam ternyata memang tidak mudah, tapi jujur sangat menyenangkan. Wejangan, bukan lewat kalimat-kalimat perintah yang mendoktrin, tetapi membuka mata dengan cerita nyata yang bisa jadi aku juga sudah melihatnya. Sesekali aku yang ikut bercerita. Berbagai subjek cerita ini pada akhirnya hanya menjurus pada satu subjek utama, perempuan. Perempuan dengan rasionalitasnya sebagai pemuja cinta, perempuan sebagai seorang istri, dan perempuan sebagai seorang ibu. Sesungguhnya sudah sejak lama yang semacam ini bersemayam dengan lembut di otakku. Hanya saja mendengarkannya lagi akan membuatnya semakin kokoh bersemayam. Bukan goyah.

Aku percaya setiap manusia memiliki keyakinannya masing-masing untuk ia akan hidup dengan cara seperti apa. Aku pun seperti itu dan itu mutlak adalah hak individual. Hanya saja kali ini aku berbicara tentang pandanganku dan aku hanya menyikapi kenyataan yang ada di sekelilingku. Tentang perempuan yang sedang memuja cinta masa muda, bukan kehilangan akal sehatnya hanya saja kurang berpikir sedikit lebih bijak. Itu pikirku. Bebas setiap orang berpikir yang sama atau tidak.

Meski dalam posisi sama-sama memuja cinta antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi pada akhirnya perempuan akan menjadi pihak yang lebih tidak diuntungkan. Tentu, ketika terjadi pelanggaran kesepakatan non-formal antara kedua belah pihak yang diakuinya berstatus pacaran. Itu bukan status yang disahkan oleh hukum melainkan pengesahan atas nama cinta. Aku tidak menolak, aku juga menyukai status itu. Hanya saja, jangan bertindak lebih dari batasan status non-formal itu. Meski ketidakformalan juga memunculkan batasan yang abu-abu, tapi masih ada norma bukan? Ingat saja, jika kesepakatan tidak berakhir indah, tindakan yang berlebihan hanya akan merugikan pihak perempuan.

Pemuja cinta yang menyerahkan tubuhnya, kehilangan keperawanan, menanggung kehidupan seorang bayi, ditinggalkan pasangan pemuja cintanya, dan pada kenyataanya tak ada kekuatan hukum yang bisa menuntut. Kemalangan hidup rasanya, ditambah dengan gunjingan manusia yang tak ada habisnya. Sedang lawan main dengan bebas terbang seperti merpati pencari surat cinta berikutnya. Ingat perempuan itu diciptakan spesial, indah dimata lawan jenisnya, dan memiliki misi penting dalam hidup. Menjaga kehormatan dan menciptakan batasan-batasannya sendiri. Intinya tubuh wanita adalah derajat dan kehormatannya. Pikirku itu harta paling berharga di dunia ini, jangan biarkan orang yang tak berhak menyentuhnya apalagi memilikinya. Pelajaran pertama untuk seorang perempuan dan kupikir semua perempuan sudah tahu itu. Hanya saja terkadang lupa dan ini kuingatkan lagi.

Jangan pernah berkata perempuan dibebani dengan tugas yang lebih berat, menjadi seorang istri atau bahkan menjadi ibu. Kupikir itu adalah bagaimana Tuhan memandang wanita itu spesial dan memberikannya kemampuan lebih. Melihat dan menggendong seorang bayi yang lucu saja sudah sangat menyenangkan apalagi dengan seorang bayi yang memanggilmu ibu? menjadi seorang ibu. Dan menjalankan misi khusus itu dengan sebaik mungkin tentu memperlihatkan betapa perempuan itu sesungguhnya di ciptakan sangat hebat. Kekuatan fisik yang diagungkan dari seorang laki-laki kupikir tak bisa mengalahkan kekuatan seorang ibu, meski hanya lewat tutur katanya yang lembut.

Tapi bukan berarti setiap perempuan akan dijanjikan menjadi seorang ibu yang lembut dan mampu menjalankan perannya dengan benar. Tak ada janji seorang ibu akan selalu menggendong anaknya setelah ia lahir, saat ia ingin tertidur manja, atau saat ia sedang sakit. Tak ada janji seorang ibu akan memberikan air susunya dan menyuapkan bubur ke mulut anaknya yang masih terlalu kecil. Tak ada janji seorang ibu yang akan selalu memeluk dan menasihati dengan lembut bukan memukul jika ia sedang marah. Tak ada janji setiap perempuan akan benar-benar menjadi seorang "ibu". Naluri itu pasti ada dalam setiap perempuan, akan tetapi akan berwujud seperti yang seharusnya atau tidak, perempuan itu sendiri yang akan memilihnya.

Menjadi seorang perempuan dimana anak-anakmu akan selalu bangga dan memiliki ibu terhebat di seluruh dunia atau menjadi tokoh antagonis yang akan bersemayam di kepala si anak hingga dewasa. Kupikir, pilihan seorang ibu itu juga yang pada akhirnya membentuk manusia-manusia dewasa dengan tabiat yang "seperti apa". Mensyukuri betapa perempuan itu diciptakan spesial dan berusaha menjalankan peran itu dengan sempurna atau dengan cara yang sempurna. Meski, perempuan bukan malaikat yang menjalankan semua kewajiban tanpa cacat. Hanya saja kupikir semua itu soal pilihan. Dan bagaimana menjadi seorang ibu, adalah pelajaran ketiga seorang perempuan.



---- Setiap perempuan boleh memilih apapun tentang apa yang ia yakini dan ia impikan. Ini hanya setitik dari kehidupan perempuan yang kulihat, kudengar, atau bisa jadi aku juga merasakannya. Karena perempuan itu spesial, karena menjadi seorang perempuan itu sangat membahagiakan. 



Perempuanmu,
Zahrotul eLeN



4 komentar:

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...