Senin, 10 Agustus 2015

Mimpiku Bersamamu.


Tenggelamnya matahari sore ini seakan tanda dia selesai dengan tugasnya menemaniku. Matahari seolah pamit pergi dan ternyata kamu juga ikut pamit untuk menyelesaikan tugasmu. Aku masih mengingat apa yang tadi sore kau buat, untaian bait yang seakan-akan hidupnya ragaku dihatimu itu begitu nyata. Apa kau tau? Matahari hari ini seakan bergandengan tangan denganmu, ya seperti bangkit bersama untuk berpamitan denganku.
        Baru sekali aku menemuimu secara langsung dan pribadi, aku merasa itu kali pertama orang yang sering disebut memiliki karakter seperti  'Sasuke' di film Naruto dan ternyata sosok itu nyata ada didepanku tanpa perlu sekatan sejenis layar. Wajahmu memang cocok di sebut lelaki tercuek, namun hatimu tidak. Kau rela datang menemuiku dan membawa pesananku. Kau bergurau seakan ingin "pinarak" saat itu benar-benar ku tawarkan seporsi lontong untukmu tapi kau malah 'ngeyel'. Akhirnya Setelah hal itu berlalu aku menjanjikan untuk membelikan dan menemanimu untuk menyantap potongan lontong yang diguyur sambel kacang kecap diatasnya. Menemani yang terkasih  itu adalah hal yang sangat ku tunggu-tunggu. Aku ingin melihatmu dengan lahap menyantap seporsi lontong yang tiada spesial itu, tapi aku berharap lontong itu bisa spesial karna ada aku disampingmu.
         Kadang aku bertanya-tanya kenapa dalam sehari hanya ada 24 jam, kenapa secepat itu? Yaa.. Pertanyaan itu muncul ketika aku merasa bahagia berguling diatas 24 jam terakhir. Tapi terkadang aku juga bertanya-tanya kenapa dalam sehari ada 24 jam, itu terlalu lama! Pertanyaan itu muncul Jika dalam 24 jam terakhir aku merasa seperti satu-satunya perempuan yang paling menderita. Aku sadar labilnya sikap ini terasa melekat kuat didalam keseharianku. Namun, bahagia atau tidaknya hariku ternyata aku sendiri yang menentukan. Aku seperti mengidap sakit gila nomer 16,  yakni perempuan yang membuat dunia sendiri dalam kepalanku, menciptakan masalah-masalahku sendiri, terpuruk didalamnya lalu menyelesaikan masalah-masalah itu sambil tertawa-tawa juga sendirian. Selalu menumpuk ungkapan orang lain tentang diriku dan cibiran orang lain yang menghujamku. Aduh.. Seakan itu sakit yang kualami sendiri. Namun semua berubah setelah orang yang selalu memanggilku dengan sebutan 'mamih' &'kowe' mengajariku bahwa tak semua cibiran orang kepadaku itu adalah ungkapan rasa benci, kadang mungkin biasa kau sebut 'pisuhan'. Seperti sikap yang kita tunjukkan selama ini. Kau tau? Ini adalah kali pertamaku mendapati sosok sepertimu.
        Aku tak heran bila orang lain menyebut kau berkarakter seperti 'Sasuke' sebab semakin aku bertambah dewasa, semakin banyak kutemui spesies manusia yang berbeda bahkan banyak diantara mereka yang menggunakan mata telanjang untuk menilai orang lain. Ya, hanya menilai dari apa yang mereka lihat, tapi maklumlah tak semua manusia dapat melihat seseorang langsung dari dalam tanpa mengenal terlebih dahulu "Tak kenal, maka tak sayang" dan itu memang benar adanya.
       Coba pergi keluar, lihatlah ribuan bintang yang menghiasi bentangan kain hitam. Dan jika kau meneliti edaran ribuan bintang itu dapat menjadi ukiran tawa di wajahmu yang khas itu, dari sana juga aku bisa melihatmu tertawa saat bercanda denganku, kau percaya dengan bayangan kan? Dia seolah ada namun sebenarnya dia tidak pernah nyata. Kau tau? Engkau adalah anugrah juga dari Penciptaku, kau juga salah satu yang terindah.
       Apa kau juga tau? Melihat bintang malam ini membuatku teringat pada lontong yang kujanjikan untukmu dan yang baru kemarin malam ku mimpikan lalu membuatku terbangun. Aku lanjutkan tidurku dan berharap ku temui tawamu disela-sela mimpi. Namun kau tak mau melanjutkan mimpi yang terputus kemarin malam. Membuatku sedikit kecewa. Ah.. Membahas pasal lontong tiba-tiba perutku meraung-raung bak singa lapar, tapi ini sudah lewat jam makan perempuan yang masih prawan, kau tau efeknya kan. Baiklah, aku ingin meneguk segelas air dulu untuk mengguyur singa yang ada diperutku yang sedang meraung mencengkram setiap sisi perut ini, itu cukup membuat singa itu tenang dan cukup membuatku nyaman untuk berenang diatas pulau kapuk yang biasa ku arungi untuk berjumpa denganmu dalam mimpi. Selamat malam..

Zahrotul Laili

5 komentar:

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...