Kamis, 13 Agustus 2015

MOooKONG.....



Malam ini tak beda dengan malam sebelumnya. Ya malam ini masih dengan bentangan kain hitam yang sama, namun biji wijen diatasnya serasa sedikit berkurang, mungkin karna mendung mencoba menghalangi mata ini untuk mencari edaran wijen diatas sana yang biasa membentuk sepenggal senyummu yang khas. Aku paling suka keluar rumah jika orang yang biasa ku panggil 'mbah yakub' merapikan dan memotong kayu bakar yang sore tadi dikumpulkan. Satu persatu disusun menyerupai piramida. Aku merasa aman keluar rumah jika ada orang. Aku memang bukanlah perempuan yang punya banyak nyali untuk sendiri didalam pekatnya malam.
        Berdiam diri diteras rumah, duduk diatas kursi lusuh yang sudah lama bermukim diteras ini, kayunya yang seakan menyatu dengan tanah mulai rapuh karna dimakan usia. Pekatnya malam ini membawa serta lamunanku pergi ke masa kecilku yang mokong, ingat bagaimana dulu caraku pulang ke rumah sehabis 'ngaji' dari mushola itu. Padahal jaraknya tak terlalu jauh dari rumahku, namun terasa menyeramkan gelap dan melelehkan keberanianku. Biasanya dari jarak yang cukup dekat aku teriak dengan suaraku yang tiada merdu sama sekali "mak'e...... Sawang.... Mak'e parani.." aku teriak tanpa perduli tetanggaku terganggu atau tidak, biasanya aku terus melakukan hal itu sampai ma'ku menjawab. Ya, serasa hanya aku dan mak'ku saja yang mendengar. Aku begitu penakut, aku paling tidak berani jika berhadapan dengan sunyi, sepi maupun gelap.
      Biasanya teriakan-teriakan histerisku akan berakhir jika telah kudengar suara mak'ku dibalik pintu yang selalu dapat menenangkan hatiku. Kulihat wajah yang tidak asing memperlihatkan auranya, walau hanya berdiri didepan pintu, aku bak menemukan mentari disana. Wajah yang ketika ku pandang selalu kutemukan ketenangan, keteduhan, dan jalan yang seakan penuh lampu.
        Aku masih saja ingat, setiap kali aku asyik bermain dengan teman sebayaku, rasanya aku tak ingin pulang, seakan tak mau keasyikan itu berakhir, jadi aku selalu beralasan menunggu adzan isya' jika mak'ku datang mencoba membujukku, padahal dia tau membujukku adalah hal yang sia-sia karna dasar keras kepala. Dengan bahasanya yang khas dia selalu menakutiku "ojo celuk-celuk lo yo.., mak'e ape muleh, ape turu. Rausa jerit-jerit, nek ra pengen wewe tangi. Jo lali senengane wewe kui bocah mokong!" lalu dia mulai beranjak pulang pelan-pelan hilang dimakan pekatnya malam. Kau tau apa itu 'wewe'? Dia adalah sebangsa mahluk halus atau hantu, yang katanya suka dengan 'bocah mokong', didalam imajinasiku dia adalah perempuan tua dengan karung sak yang digunakan untuk menangkap bocah mokong sepertiku, konon dia mati karna lelah dengan anaknya yang nakal dan mokong hingga dia jadi 'weden' untuk mencari anaknya, cerita yang menyeramkan untuk bocah penakut sepertiku. Itu menurut cerita mak'ku karna sampai sebesar ini tak pernah kujumpai mahluk semacam itu. Dan sepertinya kata-kata mak'ku tadi sedikit membuatku takut, namun semua itu tidak merobohkan keasyikanku bermain dan aku masih tetap tidak mau pulang, dasar anak kecil.
      Biasanya selesai jama'ah sholat isya' semua jama'ah saling berpamitan pulang termasuk aku. Tapi kini aku merasa malam menertawakanku karna aku yang tadi 'ngeyel' tak mau pulang sekarang malah tak berani pulang. Nyata omongan mak'ku tadi berhasil membuatku tertawan ditempat ini. Rasanya ingin cepat pulang namun aku juga tak berani berteriak karna aku teringat omongan mak'ku tadi.
        Jadi dengan terpaksa aku putuskan untuk tidur dirumah orang yang sering ku panggil 'mbah uti'. Rumahnya hanya berjarak beberapa langkah dari mushola. Aku datang mendekatinya dan bercerita, lagi-lagi aku tak berani pulang. Dengan senang hati beliau mengajakku berbaring disampingnya, menjadikan tangan kanannya sebagai bantal. Lalu aku berpura-pura memejamkan mata berharap mak' mencariku lagi namun ternyata pejaman mata itu membuatku tak sadar karna terbawa oleh merdunya tembung penghantar tidur yang dilantunkan mbah utiku, rambutku juga dibiarkan terurai dan tangan kirinya mulai menari diatasnya membuat aku terjun ke alam mimpi. Tak jarang, ketika aku bangun aku selalu mendapati ragaku tak berada di bilik sempit milik mbahku. Karna tiba-tiba aku sudah berada dikamar ditemani guling yang biasa tersiksa dengan gaya tidurku.
         Ya, aku selalu tertawa sediri saat aku ingat. Betapa mokongnya aku, betapa mak'ku mengerti perasaanku yang tak pernah mau jauh dari raganya yang melegakan segala kesempitan didada. Aku yang jauh dari kata berbakti saja masih merasa menjadi Putri Raja saat bersamanya. Ya Alloh Gusti, air mata serasa ingin terjun bebas dipipi menciptakan sungai kecil di mataku, saat aku sadar beliau tak lagi disini.
        Pernah aku berharap agar kehadirannya selalu diselebungi dengan selimut keabadian, karna ketenangan selalu ku temui saat aku memandang wajahnya, ada dipeluknya dan berada disampingnya membuatku mampu berjalan didalam pekatnya malam. Namun lagi-lagi aku tersadar "apapun yang bernyawa akan merasakan mati". Tidak ada yang abadi kecuali dzat yang maha Abadi, maha Kekal, maha Awal dan maha Akhir. Kini semua berubah, setelah mak'ku pergi meninggkan aku untuk yang pertama kali dan tak akan kembali selamanya. Setelah beliau berjalan menuju keabadian yang sebenarnya aku menemukan ketenangan yang baru. Ya, ketenangan yang sebenarnya, yaitu jika aku mengingat segala kuasa-Nya, segala keadilan-Nya, segala takdir-Nya yang pasti tidak pernah salah. Aku menemukan ketenangan lahir maupun batin, aku menemukan ketrentaman jiwa saat mengingat tentang kebesaran-Nya. Aku baru sadar, semua yang terjadi karna Alloh mencintaiku.
      Hemm.. Jujur mengingat masa kecilku membuatku lupa akan ruwetnya masa dewasa. Aku kembali menatap langit dan sepertinya mendung telah berpamitan. Membuat kain hitam lebar itu dipenuhi dengan biji wijen dan lagi-lagi aku menemui edaran wijen itu yang membentuk senyum khas diwajahmu. Namun sepertinya 'mbah yakub' telah rampung dengan pekerjaannya, dia beranjak masuk kerumah karna mungkin nyamuk mulai menjadikan tubuhnya santapan makan malam. Jika beliau mulai masuk itu juga menjadi tanda malam telah larut, dan saatnya aku juga beranjak dari kursi ini, mengkondisikan diriku, menghindari udara dingin yang mulai merambat masuk kedalam tulang.

Zahrotul Laili

1 komentar:

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...